Pada akhir dekade 2010-an, lanskap pariwisata Banten mengalami perubahan signifikan. Cipacung, sebuah kawasan di perbukitan dekat Anyer, mulai dilirik wisatawan dan investor sebagai alternatif destinasi wisata pantai. Pergeseran tren ini bukan tanpa sebab. Bencana tsunami Selat Sunda pada Desember 2018 menjadi titik balik traumatis bagi pariwisata pesisir Anyer-Carita. Gelombang ganas tersebut menelan ratusan korban jiwa dan melumpuhkan industri wisata setempat[1]. Dalam hitungan hari, pantai-pantai yang biasanya padat pengunjung mendadak sepi; sekitar 20-25% wisatawan membatalkan pemesanan hotel di sepanjang Anyer hingga Carita setelah tragedi itu[2]. Kekhawatiran masyarakat akan bencana susulan semakin diperparah dengan isu-isu tsunami yang beredar pascaperistiwa tersebut. Bahkan jauh sebelumnya, rumor tsunami kerap membuat wisata pantai Anyer-Carita lengang, seperti pascatsunami Aceh 2004 ketika Anyer sempat sepi pengunjung akibat isu tsunami yang ternyata hoaks[3][4]. Trauma kolektif ini kini bertransformasi menjadi pergeseran preferensi: wisatawan cenderung mencari tempat berlibur yang dianggap lebih aman secara geografis, jauh dari jangkauan gelombang laut. Dalam konteks inilah Cipacung dan daerah perbukitan serupa mulai dipandang sebagai oasis baru pariwisata Banten.
Daya tarik utama kawasan Cipacung adalah faktor keamanan geografisnya. Berada di dataran tinggi beberapa kilometer dari garis pantai Anyer, Cipacung menawarkan jarak aman dari ancaman tsunami maupun banjir pesisir. Secara topografis, wilayah perbukitan Cipacung terletak ratusan meter di atas permukaan laut – sejumlah sumber mencatat ketinggian sekitar 200-250 mdpl untuk kampung-kampung di area ini[5]. Artinya, jika gelombang tsunami di pesisir Anyer-Carita mencapai tinggi 2-3 meter seperti pada 2018, dampaknya tidak akan menjangkau dataran tinggi Cipacung. Radius amannya jauh melampaui jangkauan genangan tsunami Selat Sunda yang maksimal sekitar 200-300 meter dari garis pantai[1]. Hal ini membuat wisatawan merasa lebih tenang beraktivitas di Cipacung ketimbang di pantai. Seorang warga Pandeglang bercerita, setiap kali terjadi gempa besar, ia dan keluarga segera mengungsi ke tempat lebih tinggi karena trauma tsunami 2018 masih membayangi[6][7]. Rasa aman inilah yang menjadi jualan utama Cipacung: panorama alam pegunungan dengan latar Selat Sunda di kejauhan, tanpa dihantui ketakutan akan sapuan ombak raksasa.
Keunggulan geografis Cipacung juga bersifat strategis. Kawasan ini berada di jalur penghubung antara pusat Kabupaten Pandeglang dan zona wisata pesisir. Ruas jalan nasional Cikole–Cipacung di Pandeglang tercatat menjadi titik ramai arus wisata, terutama saat libur panjang[8]. Titik persimpangan Cipacung ibarat gerbang keluar-masuk kendaraan wisatawan dari arah pantai Carita dan sekitarnya menuju daerah kota atau sebaliknya[9]. Lokasi yang strategis ini memudahkan akses wisatawan sekaligus menjadikan Cipacung tempat singgah potensial. Di satu sisi, jaraknya cukup dekat untuk dicapai dari Anyer (sekitar 10-15 menit berkendara dari kawasan pantai, menurut pelaku wisata lokal), namun di sisi lain cukup jauh untuk terhindar dari zona merah tsunami. Secara ekologis, perbukitan Cipacung juga relatif lebih stabil terhadap ancaman banjir bandang atau abrasi dibanding dataran rendah pesisir. Bencana banjir rob (air pasang) yang semakin sering melanda pantai akibat perubahan iklim[10] tidak menjadi kekhawatiran bagi kawasan di ketinggian ini. Dengan demikian, dari perspektif mitigasi bencana, Cipacung memiliki posisi unggul sebagai destinasi yang tangguh terhadap risiko alam. Tak heran jika konsep “wisata tanggap bencana” mulai disuarakan pascatsunami – pemerintah dan pelaku industri pariwisata didorong membangun destinasi dengan kesiapan mitigasi di lokasi-lokasi aman bencana[11]. Cipacung memenuhi kriteria itu secara alami.
Bukan hanya faktor aman, selera wisatawan pun bergeser ke wisata alam terbuka di dataran tinggi, apalagi setelah dua tahun dilanda pandemi COVID-19. Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada 2021 mengungkapkan bahwa tren pariwisata pascapandemi memang tertuju pada destinasi wisata alam terbuka, dengan penekanan pada kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian[12]. Wisata perbukitan seperti Cipacung diuntungkan oleh tren ini. Para pelancong kini cenderung menghindari kerumunan dan mencari udara segar pegunungan, trekking ringan, atau sekadar menikmati pemandangan hijau yang menenangkan. Fenomena “healing” di alam terbuka marak di media sosial; Banten pun tak ketinggalan dengan spot-spot alami yang viral. Misalnya, objek Negeri di Atas Awan Gunung Luhur di Lebak sempat menjadi buah bibir nasional pada 2019, menarik ribuan pengunjung setiap akhir pekan[13][14]. Viral-nya Gunung Luhur terjadi tepat ketika pariwisata Banten pesisir lesu pascatsunami – seakan wisatawan beramai-ramai mencari alternatif di pegunungan[15]. Ketua PHRI Banten, Ashok Kumar, menyebut fenomena tersebut sebagai “berkah usai Banten dirundung musibah tsunami”, yang berhasil mendongkrak citra pariwisata Banten di tengah masa pemulihan[15].
Hal serupa tercermin di kawasan Anyer dan sekitarnya. Setelah tsunami Selat Sunda 2018, kunjungan ke pantai Anyer-Carita sempat anjlok drastis. Pada libur Lebaran dan Natal 2018, pantai-pantai nyaris kosong, berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya di mana lebih dari 120 ribu wisatawan membanjiri Anyer selama libur akhir tahun[16]. Trauma bencana membuat warga maupun wisatawan enggan mendekati pantai untuk sementara waktu[17]. Bahkan menjelang liburan awal 2023 lalu, sempat muncul kekhawatiran karena erupsi Gunung Anak Krakatau – isu gelombang tinggi 8 meter beredar dan membuat Pantai Anyer kembali sepi[18][19]. Di sisi lain, tempat-tempat wisata alam di pedalaman Banten mulai dilirik. Curug-curug (air terjun) di Pandeglang, perkemahan pegunungan, hingga agrowisata di kaki Gunung Karang semakin populer sebagai destinasi keluarga. Pelaku wisata lokal mengamati perubahan ini: wisatawan kini lebih banyak menanyakan rute ke bukit atau curug terdekat alih-alih pantai. Cipacung mendapatkan momentum dari perubahan preferensi ini. Berbekal panorama alam dan udara sejuk pegunungan, kawasan ini menawarkan pengalaman “back to nature” yang dicari pascapandemi. Wisatawan bisa menikmati pemandangan laut Anyer dari kejauhan secara aman, trekking kecil di perbukitan, atau berbaur dengan masyarakat desa tanpa hiruk-pikuk turis seperti di pantai. Tren staycation di vila-vila atau homestay dengan nuansa alam juga meningkat; sejumlah vila dan bumi perkemahan di perbukitan Pandeglang kerap penuh dipesan saat akhir pekan. Alam terbuka yang dulu mungkin kurang mendapat perhatian, kini justru menjadi primadona baru.
Faktor kesehatan turut berpengaruh. Di masa pandemi, orang lebih nyaman berwisata di ruang terbuka yang luas ketimbang berkerumun di resort pantai. Perbukitan Cipacung relatif masih alami dan tidak dikerumuni penjual atau bangunan komersial, sehingga mendukung jaga jarak alami. Selain itu, biaya wisata alam cenderung lebih terjangkau. Bagi kalangan muda milenial dan komunitas pejalan, wisata bukit di pedesaan seperti Cipacung memberikan sensasi petualangan murah meriah. Hal ini sejalan dengan temuan Kementerian Pariwisata: pada 2021-2022 wisata minat khusus dan kelompok kecil ke alam terbuka meningkat pesat[12]. Dengan kombinasi semua faktor tersebut – trauma bencana, pola wisata pascapandemi, dan trend media sosial – wisata alam perbukitan di Banten naik daun, menggeser dominasi wisata pantai yang sebelumnya tak tergoyahkan.
Cipacung kini dianggap memiliki nilai strategis sekaligus ekologis yang menjanjikan sebagai destinasi wisata baru. Secara ekologis, kawasan ini dianugerahi lingkungan perbukitan hijau yang masih asri. Hutan kecil, kebun masyarakat, dan aliran sungai dari gunung menciptakan lanskap alami yang menyejukkan mata. Udara di Cipacung lebih sejuk dibanding di pesisir Anyer yang cenderung panas; suhu malam hari pun relatif dingin, cocok bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana pedesaan pegunungan. Dari beberapa titik ketinggian di Cipacung, pengunjung dapat melihat bentangan garis pantai Selat Sunda dan bahkan siluet Krakatau di kejauhan pada hari cerah. Pemandangan ini menjadi nilai jual: wisatawan mendapat panorama laut dan sunset seperti di pantai, namun dari tempat tinggi yang aman. Selain itu, ekosistem perbukitan Cipacung mendukung aktivitas ekowisata. Berjalan di jalan setapak desa, wisatawan bisa menjumpai beragam flora-fauna lokal, persawahan terasering, hingga kebun durian atau cengkeh milik warga. Potensi agrowisata ini menarik minat investor yang melihat peluang usaha kebun wisata atau petik buah di Cipacung, sembari mengedukasi pengunjung tentang pertanian berkelanjutan. Keunikan ekologis Cipacung terletak pada kombinasi view laut dan nuansa pegunungan – sebuah paket komplet yang jarang ditemui di destinasi pantai biasa.
Dari segi infrastruktur, Cipacung perlahan berbenah didorong kebutuhan pariwisata. Akses jalan menuju kawasan ini tergolong baik. Jalan raya lintas Pandeglang-Anyer melalui Cipacung telah ditingkatkan kapasitasnya sebagai jalur alternatif wisatawan menuju Pantai Carita dan Tanjung Lesung. Meski sempat terjadi kemacetan di persimpangan Cipacung pada puncak liburan[9][20], pemerintah daerah segera merespons dengan rencana pelebaran jalan dan penambahan rambu di titik rawan. Penerangan jalan umum diperbanyak di jalur AMD Lintas Timur hingga pertigaan Cipacung demi keamanan wisatawan yang melintas malam hari[21]. Sinyal telekomunikasi pun mulai diperkuat di area perbukitan, mengingat banyak pengunjung suka membagikan foto pemandangan Cipacung secara real-time di media sosial. Untuk akomodasi, beberapa rumah warga di sekitar Cipacung sudah disulap menjadi homestay sederhana. Wisatawan bisa merasakan tidur di rumah panggung bambu atau vila bernuansa pedesaan. Meski fasilitasnya belum semewah resort di Anyer, kenyamanan dan keramahan lokal menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa investor lokal dikabarkan tengah menjajaki pembangunan villa estate kecil di lereng Cipacung, lengkap dengan kafe berkonsep alam. Bahkan, sebuah resto bernama “Ketapang” telah berdiri di wilayah Cipacung Landeuh dekat muara sungai, menggabungkan wisata kuliner dengan pemandangan laut lepas[22]. Ini menandakan geliat investasi mulai merambah kawasan yang dulunya hanya dikenal sebagai desa perlintasan.
Selain itu, daya tarik Cipacung tak lepas dari kearifan lokal masyarakatnya. Penduduk setempat menyambut potensi wisata ini dengan antusias sembari tetap menjaga kelestarian alam. Kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa-desa sekitar Cipacung mulai dibentuk untuk melatih pemuda setempat sebagai pemandu tracking bukit dan pengelola homestay. Dalam berbagai kesempatan, masyarakat dan pemerintah desa menegaskan pentingnya menjaga lingkungan Cipacung agar tidak tercemar jika nantinya ramai dikunjungi. Konsep wisata yang diusung adalah ekowisata berkelanjutan, sehingga pembangunan sarana wisata harus ramah lingkungan. “Jangan sampai Cipacung kehilangan pesona hijaunya,” begitu pesan seorang tokoh masyarakat setempat. Oleh karena itu, setiap rencana investasi di Cipacung dituntut melakukan kajian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) terlebih dahulu. Pendekatan hati-hati ini justru menjadi nilai plus: Cipacung diproyeksikan sebagai destinasi alam yang berkelanjutan, tidak dieksploitasi berlebihan seperti beberapa objek wisata pantai di masa lalu.
Pergeseran minat wisata ke Cipacung dan kawasan dataran tinggi Banten tidak luput dari perhatian pemerintah daerah serta para investor. Pemerintah Provinsi Banten belajar banyak dari musibah tsunami 2018. Salah satu pelajaran penting adalah perlunya diversifikasi destinasi wisata di luar zona rawan bencana. Kepala Dinas Pariwisata Banten sempat menyatakan optimisme bahwa pariwisata Banten akan bangkit kembali pascatsunami, apalagi karena Banten memiliki destinasi lain di wilayah yang lebih aman seperti Tangerang (kota) dan Lebak[23]. Artinya, tumpuan pariwisata tidak boleh lagi hanya di pantai Anyer-Carita. Pemerintah Kabupaten Serang dan Pandeglang mulai menginventarisasi potensi objek wisata non-pantai, termasuk perbukitan. Gubernur Banten Wahidin Halim pada 2019 bahkan turun langsung ke lapangan untuk mendorong pengembangan Gunung Luhur (Negeri di Atas Awan) dengan membangun akses jalan provinsi ke lokasi tersebut[24]. Langkah cepat ini menunjukkan komitmen pemerintah menjadikan wisata perbukitan sebagai andalan baru. Dengan semangat serupa, infrastruktur menuju Cipacung juga masuk agenda. Peningkatan jalan, penambahan rute transportasi umum menuju daerah perbukitan, hingga rencana pembuatan jalur evakuasi bencana di sekitar Anyer yang tembus ke Cipacung menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah. Bahkan BMKG dan instansi terkait telah menginisiasi program Destinasi Wisata Siaga Bencana di Banten, di mana pengelola wisata diberi pelatihan mitigasi dan disiapkan prosedur keselamatan bagi wisatawan[25][26]. Jika konsep ini diterapkan, Cipacung bisa menjadi percontohan destinasi yang siap menghadapi bencana – misalnya dengan tersedianya rambu jalur evakuasi tsunami dan tempat evakuasi sementara di bukit-bukit sekitarnya.
Dari sisi investor, ada pergeseran minat investasi yang menarik. Pasca-tsunami, beberapa investor besar memang masih mempertahankan komitmennya di kawasan pantai (contohnya di KEK Tanjung Lesung[27]). Namun, tak sedikit pemodal yang mulai melirik amanah baru di sektor wisata alam pegunungan. Kabupaten Lebak contohnya, pascatsunami justru kebanjiran minat investor di sektor pariwisata alam dan industri ringan di daerah pegunungan[28]. Hal ini memberi sinyal bahwa modal swasta mencari lokasi yang risikonya lebih rendah. Cipacung sebagai wilayah perbukitan di Pandeglang pun tak luput dari radar. Investor lokal Banten dikabarkan menjajaki pembangunan glamping site (glamorous camping) di perbukitan Cipacung, memanfaatkan lahan luas milik warga untuk didirikan tenda-tenda eksklusif dengan pemandangan alam. Model glamping ini pernah sukses di Puncak Bogor dan diyakini cocok untuk pasar Jabodetabek yang ingin “menyepi” di Banten tanpa khawatir tsunami. Sinergi dengan masyarakat lokal menjadi daya tawar tambahan; beberapa pengusaha berniat menggandeng koperasi desa agar warga setempat mendapat porsi saham atau pekerjaan dari proyek wisata. Pemerintah Pandeglang sendiri proaktif menawarkan insentif bagi investasi di sektor pariwisata ramah lingkungan. Izin lahan dipermudah asalkan investor berkomitmen menjaga kelestarian dan memberdayakan masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi seperti ini, pengembangan Cipacung bisa lebih cepat terwujud sekaligus berasas manfaat luas.
Tak ketinggalan, pakar kebencanaan dan lingkungan turut memberikan arahan dalam perencanaan destinasi baru di perbukitan. Pakar geologi mengingatkan bahwa meski aman dari tsunami, kawasan bukit tetap memiliki risiko lain seperti longsor atau gempa. Karena itu, kajian geologi detail dilakukan di Cipacung sebelum pembangunan skala besar dimulai. Zonasi lahan ditetapkan: area dengan kemiringan curam tidak boleh didirikan bangunan permanen berat, melainkan cukup untuk jalur trekking atau gardu pandang. Sementara zona datar di puncak bukit boleh dibangun fasilitas asal memenuhi standar konstruksi anti-gempa. Pakar lingkungan dari universitas lokal juga dilibatkan untuk memastikan pembangunan tidak merusak keanekaragaman hayati. Mereka mendorong konsep geo-ekowisata, yaitu wisata berbasis kekayaan geologis dan ekosistem. Ini sejalan dengan upaya menjaga Cipacung tetap lestari: misalnya, mengatur jumlah maksimum pengunjung harian di spot-spot sensitif agar habitat hewan tidak terganggu. Rencana induk (masterplan) pengembangan Cipacung pun disusun secara partisipatif dengan masukan lintas disiplin – dari ahli bencana, lingkungan, ekonomi kreatif, hingga tokoh adat setempat. Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan: menciptakan destinasi wisata Cipacung yang aman, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Dari Pantai menuju Pegunungan, Banten sedang menulis babak baru pariwisatanya. Cipacung menjadi salah satu simbol perubahan tersebut – sebuah desa perbukitan yang dulu luput dari perhatian, kini naik daun sebagai surga wisata alternatif. Faktor keamanan geografis yang ditawarkan Cipacung menjawab kegelisahan wisatawan era baru yang trauma bencana. Dukungan pemerintah dan investor mempercepat transformasinya, sembari komunitas lokal menjaga agar pembangunan tetap selaras alam. Tentu, bukan berarti wisata pantai Anyer-Carita akan ditinggalkan sepenuhnya. Namun, adanya destinasi perbukitan seperti Cipacung memberi pilihan baru dan menyebar risiko. Pelajaran mahal dari tsunami mengajarkan Banten pentingnya memiliki destinasi wisata aman bencana. Sebagaimana diungkapkan dalam kampanye #SelatSundaBangkit, kebangkitan pariwisata Banten pascabencana harus disertai inovasi dan adaptasi[29]. Pergeseran tren wisata ini adalah bentuk adaptasi tersebut. Wisatawan kini dapat menikmati keelokan Banten dari dataran tinggi tanpa dihantui rasa was-was. Dan bagi warga lokal Cipacung, geliat wisata memberi harapan ekonomi baru yang lebih resilience (tangguh) terhadap goncangan alam.
Kesimpulannya, migrasi minat wisata dari pantai ke alam perbukitan di Banten merupakan respons alami dan strategis pascabencana. Cipacung sebagai destinasi di ketinggian menawarkan jawaban atas kebutuhan wisatawan akan rasa aman, keaslian alam, dan pengalaman berbeda. Dengan penataan yang tepat, Cipacung dan kawasan perbukitan Banten lainnya berpeluang tumbuh menjadi tulang punggung pariwisata yang melengkapi keindahan pesisir. Di balik duka tsunami, terselip babak baru wisata Banten yang lebih berimbang: pantai dan bukit berjalan beriringan, namun saat pantai beristirahat dari gemuruh wisata, perbukitan siap mengambil peran. Inilah potret transformasi wisata Anyer-Cipacung – investigasi mendalam yang menunjukkan bahwa alam selalu menyediakan alternatif, dan manusia belajar menyesuaikan diri demi keselamatan serta kelangsungan ekonomi lokal.
Sumber Referensi:
[1] [2] [23] Menatap Optimistis Bangkitnya Pariwisata Banten Pasca Tsunami Selat Sunda - Kabar Banten https://kabarbanten.pikiran-rakyat.com/wisata-alam/pr-59614706/menatap-optimistis-bangkitnya-pariwisata-banten-pasca-tsunami-selat-sunda
[3] [4] [18] Isu Tsunami di Pantai Anyer Tidak Benar https://www.liputan6.com/news/read/95177/isu-tsunami-di-pantai-anyer-tidak-benar
[5] [PDF] pengaruh konsentrasi dan frekuensi pemberian pupuk. https://e-journal.janabadra.ac.id/index.php/JA/article/download/3421/2139
[6] [7] Cerita Irpan Mengungsi ke Dataran Tinggi usai Gempa 6,6 M Guncang Sumur, Banten | kumparan.com https://kumparan.com/kumparannews/cerita-irpan-mengungsi-ke-dataran-tinggi-usai-gempa-6-6-m-guncang-sumur-banten-1xJ9yVFGzfu
[8] [9] [20] Arus Lalu Lintas di Jalan AMD Lintas Timur Pandeglang Padat - radarbanten.co.id https://www.radarbanten.co.id/2025/06/08/arus-lalu-lintas-di-jalan-amd-lintas-timur-pandeglang-padat/
[10] [11] [25] [26] Membangun Destinasi Wisata Siaga Bencana di Kawasan Pariwisata Tanjung Lesung Provinsi Banten - Berita Daerah - BMKG https://www.bmkg.go.id/berita/daerah/membangun-destinasi-wisata-siaga-bencana-di-kawasan-pariwisata-tanjung-lesung-provinsi-banten
[12] Pulihkan Pariwisata Indonesia, Utamakan Aspek Kesehatan dan Keselamatan Masyarakat | Sekretariat Negara https://setneg.go.id/baca/index/pulihkan_pariwisata_indonesia_utamakan_aspek_kesehatan_dan_keselamatan_masyarakat
[13] [14] [15] [24] Fenomena Negeri di Atas Awan yang Viral - Badan Penghubung Provinsi Banten https://penghubung.bantenprov.go.id/berita/fenomena-negeri-di-atas-awan-yang-viral
[16] [27] [29] [30] Dampak Tsunami Pariwisata Rugi Rp1 Triliun - radarbanten.co.id https://www.radarbanten.co.id/2019/01/12/dampak-tsunami-pariwisata-rugi-rp1-triliun/
[17] Isu Tsunami 57 Meter di Pandeglang Banten, Warga Jadi Paranoid https://regional.inews.id/berita/isu-tsunami-57-meter-di-pandeglang-banten-warga-jadi-paranoid
[19] Hoaks Tsunami Beredar, Bupati Serang Pastikan Pantai Anyer ... https://www.merdeka.com/peristiwa/hoaks-tsunami-beredar-bupati-serang-pastikan-pantai-anyer-aman-untuk-wisatawan.html
[21] PANDEGLANG – Jalur AMD lintas timur, dari simpang Cigadung ... https://www.instagram.com/p/Cr2lkodJ4Sk/
[22] Tempat nya cantik Kasih besti kalian yaa tiket masuk dan parkir free ... https://www.instagram.com/reel/DSPMFCTAZG_/
[28] Kabupaten Lebak Banten : Eksplorasi Alam dan Budaya Banten https://www.tournesia.com/blog/kabupaten-lebak-banten-eksplorasi-alam-dan-budaya-banten/